Lebaran, Musti Bahagia atau Sedih
Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran baru saha dirayakan oleh umat Islam setelah lebih kurang sebulan lamanya digembleng di “Padepokan Ramadhan”. Berbagai macam perasaan muncul dan campur aduk menjadi satu; bahagia, senang, gembira, sesal, syukur, takhut, cemas, khawatir, bimbang, surprise. Dari sekian perasaan yang saya sebutkan tadi nampaknya untuk tahun ini perasaan penyesalan adalah yang mungkin agak dominan. Bagaimana tidak, ibadah yang dilakukan selama Ramadhan kemarinn nampaknya masih jauh dari harapan kalau tidak mau dibilang sangat kurang sekali. Secara kuantitas?? secara kualitas?? I don’t know!!!
Bulan Ramadhan tahun ini rasanya sangat cepat berlalu begitu saja. Diawali satu minggu berpuasa di lokasi KKN, hari-hari berikutnya tak begitu terasa dan tiba-tiba saja kok udah berakhir. Gak tau apa cuman saya yang merasa atau anda juga merasakannya, makin ke sini kok waktu serasa berjalan semakin cepat saja (mungkin sekarang ini waktu tidak lagi berjalan tetapi “berlari”). Pertanda apakah semua ini? Apakah dunia udah mendekati batasnya?
Baiklah, hal yang sudah berlalu biarlah berlalu. Toh betapa pun kita gak akan bisa kembali ke masa lalu. Hal yang musti kita pikirkan sekarang adalah bagaimana supaya hari-hari yang akan datang dan saat ini selalu bisa menjadi lebih baik dari waktu-waktu yang telah kita tinggalkan dan (kalau masih diberi umur) mencoba menjalankan sesuatu yang lebih daripada hari ini di esok hari. Kalau hari kemarin belum bisa beribadah dengan baik dan ikhlas maka ingatlah bahwa kalau hari ini anda masih hidup berarti Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada anda untuk memperbaiki diri. Jangan sampai anda sia-siakan kesempatan emas ini, detik ini juga perbaikan diri bisa dilakukan. Jangan mengulangi kesalahan yang sama berulang-ulang karena kita gak tahu kapan usia kita berakhir………
Subscribe to this site: Bloglines | Feedster | Newsgator | Pluckit | Rojo |

Comments
One Response to “Lebaran, Musti Bahagia atau Sedih”
Leave a Reply
ho og ig cpt bgd..