Kesenjangan Sosial di Negeri Ini
Kita semua sama-sama udah mengetahui bahwa di negeri kita tercinta ini jumlah penduduk yang dikategorikan “tidak mampu†menduduki peringkat I. Jadi, lebih banyak orang yang ‘tak mampu’ ketimbang orang yang ‘mampu’. Jarak antara si miskin dan si kaya nampaknya makin hari makin bertambah lebar.
Salah satu contoh nyata adalah banyaknya orang-orang yang berbondong-bondong menyaksikan konser musik artis-artis luar negeri yang mampir ke Indonesia. Padahal tiket masuknya saja harganya mencpai ratusan ribu bahkan ada pula yang mencapai angka jutaan rupiah.
Dengan mudahnya orang-orang itu menghabiskan uang sebesar itu dalam waktu tak lebih dari setengah hari. Di sisi lain masih banyak sekali orang-orang yang mati-matian bekerja untuk memperoleh uang yang jumlahnya ga sampai segitu untuk mempertahankan hidupnya.
Mengapa kondisi negeri kita menjadi seperti ini? Orang yang memiliki dana besar jumlahnya amat kecil. Ibaratnya orang yang jumlahnya hanya 10% menguasai dana yang jumlahnya 90% dan sebaliknya. Kalau kita melihat lebih lanjut rupanya ini semua gara-gara negeri ini menganut paham kapitalisme(materialisme) dalam kegiatan penyelenggaraan negara, baik secara implisit maupun eksplisit.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sistem kapitalisme para pemilik modal akan mengeruk sebesar-besarnya keuntungan tanpa memperdulikan golongan ekonomi lemah. Akibatnya golongan kuat (para pemilik modal) akan makin kaya dan sebaliknya golongan lemah akan semkain tertindas, terpinggirkan, bahkan dieksploitasi oleh golongan kuat.
Subscribe to this site: Bloglines | Feedster | Newsgator | Pluckit | Rojo |

Comments
Leave a Reply