Kebersamaan yang Tak Mengenal Batas
Mana yang lebih Anda sukai, makan sendirian ataukah makan bersama-sama dengan kawan-kawan? Jawabannya sih terserah pada Anda masing-masing. Akan tetapi, menurut saya, pribadi kok kayaknya lebih enak ketika kita bisa makan bersama-sama dengan orang lain. Bahkan ketika makanan yang kita makan jumlahnya gak begitu banyak pun, rasa nikmat itu tetap ada.
Ada lagi hal yang lebih ‘afdhol’ kalau dikerjakan secara bersama-sama. <!–more–>Kita pasti udah sangat akrab dengan yang namanya kerja bakti. Apalagi di masa-masa menjelang HUT RI seperti saat ini. Kerja bakti umumnya ditujukan untuk kegiatan di kampung-kampung yang dikerjakan oleh warga masyarakat secara bersama-sama. Padahal dalam arti yang lebih luas, segala macam kegiatan yang dilakukan oleh orang banyak secara bersama-sama pun dapat disebut sebagai kerja bakti. Contohnya adalah mengerjakan tugas dari dosen secara kelompok dan yang lebih luas lagi adalah kegiatan pembangunan yang dilaksanakan di tiap negara yang tentunya melibatkan hampir seluruh warga negaranya.
Sekarang kita akan membahas tentang bagaimana kebersamaan yang dikenal dalam agama Islam. Antara umat Islam yang satu dengan yang lainnya diibaratkan sebagai satu tubuh. Bayangkan ketika jempol Anda tiba-tiba tersandung batu dan akhirnya berdarah. Secara refleks mulut akan mengaduh, kepala mungkin akan pening, tangan akan mencari kapas atau obat dan otak pun akan berpikir bagaimana supaya darah segera berhenti mengucur. Demikianlah sedikit gambaran tentang kebersamaan dalam tubuh kita yang tanpa dikomando sekalipun sudah tahu harus melakukan apa.
Begitu puallah seharusnya kebersamaan yang dimiliki oleh tiap umat Islam. Ketika ada saudaranya yang muslim mengalami kesusahan maka sudah sewajarnyalah umat Islam yang lain berupaya untuk meringankan beban saudaranya tersebut. Kebersamaan yang dimiki oleh umat islam diikat oleh sesuatu yang namanya aqidah sehingga tak mengenal suku bangsa, warna kulit, bahasa, ras maupun kota, pulau, negara bahkan benua sekalipun. Sekali seseorang bersahadat dan ia tetap dalam sahadatnya itu, maka ia adalah saudara kita.
Contoh terbaik kebersamaan umat islam adalah ketika zaman Rasulullah SAW dan para sahabat yakni kaum muhajirin dan anshor. Lihatlah bagaimana kuatnya ikatan antarumat islam di kala itu. Saking kuatnya ikatan ini, seakan-akan seperti saudara kandung sendiri. Orang-orang anshor berlomba-lomba memberikan bantuan kepada kaum muhajirin yang datang dari Mekah. Inysa Allah orang-orang Anshor melakukannya dengan ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah SWT. Kalau mereka mengharapkan sesuatu balasan, misalnya harta, berapa banyak sih harta yang mampu dibawa orang-orang yang berhijrah itu?
Itulah contoh terbaik sepanjang masa yang dapat kita tiru pada kehidupan kita saat ini. Dan kalau kita mau merenung lebih dalam lagi, mengapa kondisi umat islam seperti ini? Mengapa kok sekarang Hamas dan Fatah malah saling berselisih? Mengapa terjadi perang sekte di Iraq? Bagaimanakah kebersamaan yang dimiliki oleh umat islam sekarang? Samakah dengan yang ada pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat? Ya, jawabannya pasti kita semua sudah tahu.
Umat islam saat ini mayoritas lebih sibuk dengan kelompoknya masing-masing. Lebih percaya dengan pemimpin kelompoknya yang terkadang ’secara tak sadar’ malah mengalahkan tingkat kepercayaannya kepada Rasulullah SAW sehingga apapun yang dikatakan oleh Sang Pemimpin, langsung dipegang teguh. Akibatnya ada kelompok yang menganggap orang islam di luar mereka kotor atau bahkan najis.
Bagaimana ini, sesama umat islam kok sikapnya seperti itu. Pantas sajalah kalau umat islam saat ini menjadi lemah sehingga menjadi bulan-bulanan orang-orang kafir yang bersatu padu. Jadi, di manakah kebersamaan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW saat ini?
Subscribe to this site: Bloglines | Feedster | Newsgator | Pluckit | Rojo |

Comments
Leave a Reply